PENDEKATAN KURIKULUM
Di
susun
Oleh
Wirandica
Wirananda
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya adalah
proses komunikasi yang didalamnya mengandung transformasi pengetahuan,
nilai-nilai dan ketrampilan-ketrampilan, di dalam dan di luar sekolah yang
berlangsung sepanjang hayat, dari generasi ke generasi (Dwi Siswoyo, 2008: 25). Dalam
kegiatan belajar mengajar baik di sekolah ataupun di luar sekolah sangat
diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar tujuan
ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka sangatlah
perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid. Dalam
interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara kedua
belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain
agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan
dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang
mengajar. Salah satunya dengan
menggunakan model-model pendekatan pembelajaran yang akan dibahas didalam
makalah ini.
Upaya meningkatkan kualitas suatu
bangsa tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan.
Berangkat dari pemikiran itu UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan
sekarang dan masa depan yaitu: learning to know, learning to do, learning to
be, dan learning to live together.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
pendekatan dalam belajar mengajar ?
2.
Jelaskan
model-model pembelajaran dalam toeri mengajar !
3.
Bagaimana Pendekatan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi ?
4.
Jelaskan empat
pilar pendidikan !
5.
Jelaskan
rambu-rambu kurikulum !
1.3 Tujuan
Membekali calon guru agar dapat memahami tentang Pendekatan-pendekatan
dalam Belajar Mengajar, metode-metodenya serta pengembangan kurikulum berbasis
kompetensi, mengetahui 4 Pilar Pendidikan dan Rambu-rambu Pendidikan sehingga mampu menjalankan tugasnya
sebagai guru profesional dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pendekatan-Pendekatan Dalam
Kegiatan Belajar Mengajar
Pendekatan
pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan,
dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Macam-macam pendekatan pembelajaran:
1. Pendekatan
Individual
Pendekatan individual merupakan
pendekatan langsung dilakukan guru terhadap anak didiknya untuk memecahkan
kasus anak didiknya tersebut. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat
penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan
pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan
kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya
selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.
Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan
pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.
2. Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok merupakan
pendekatan yang dilakukan guru dengan cara mengelompokkan anak didiknya sesuai
dengan kriterianya demi tercapainya kegiatan belajar mengajar. Ketika guru
ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan
bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan. Fasilitas belajar pendukung,
metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada
anak didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu,
pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus
mempertimbangkan hal-hal lain yang ikut mempengaruhi penggunaannya.
3. Pendekatan Klasikal
Pengajaran klasikal merupakan
kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas
lebih murah yaitu ada batas jumlah minimum siswa yang pada umumnya tiap kelas
berkisar dari 10 – 45 orang. Pembelajaran kelas berarti melaksanakan dua
kegiatan sekaligus, yaitu : (i) Pengelolaan kelas, dan (ii) Pengelolaan
pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan
terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Pengelolaan kelas dapat terjadi
masalah yang bersumber dari kondisi tempat belajar dan siswa yang terlibat dalam
belajar. Fasilitas belajar yang rusak serta adanya gangguan dari sekelompok
siswa merupakan salah satu sumber masalah dalam pembelajaran.
Pengelolaan pembelajaran bertujuan
mencapai tujuan belajar. Tekanan utama pembelajaran adalah seluruh anggota
kelas. Di samping penyusunan desain instruksional yang dibuat, maka
pembelajaran kelas dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut: penciptaan
tertib belajar dikelas, penciptaan suasan tenang dalam belajar, pemusatan
perhatian pada bahan ajar dan mengikutsertakan siswa belajar aktif, dan
pengorganisasian belajar sesuai dengan kondisi siswa.
4. Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada
permasalahan anak didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan
permasalahan anak didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak
didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan. Permasalahan yang dihadapi
oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun
akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang
tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan
menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Demikian juga halnya terhadap
anak didik yang membuat keribuatan. Guru tidak bisa menggunakan teknik
pemecahan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu
hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam
pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.
5. Pendekatan Edukatif
5. Pendekatan Edukatif
Anak didik
yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru
sedang memberikan pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum
dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan
sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan
yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk
menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana
bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan
pendekatan edukatif adalah setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru
lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar
menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma
agama.
6. Pendekatan Keagamaan dan Kebermaknaan
Khususnya untuk mata pelajaran umum,
sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar
nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan
penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi,
guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum.
Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata
pelajaran yang dipegang. Misalnya: surah Yasiin ayat 34 dan 36 adalah bukti
nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agamanya.
Akhirnya pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperbaiki kerdilnya jiwa
agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak
dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, di hanyati dan di
amalkanselama hayat siswa di kandung badan.
Bahasa adalah alat untuk
menyampaikan dan memahami gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan, secara lisan
maupun tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang
dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni budaya dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Dalam rangka penguasaan bahasa
Inggris tidak bisa mengabaikan masalahpendekatan yang harus digunakan dalam
proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa Inggris oleh siswa, salah
satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain
faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas dan lingkungan serta kompetensi
guru itu sendiri. Hal ini perlu dipecahkan, salah satu alternatif ke arah
pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan
kebermaknaan.
2.2 Model
Pembelajaran berdasarkan Teori-teori Belajar
a. Model Interaksi Sosial
Model ini menitikberatkan pada
hubungan antara individu dengan masyarakat atau dengan individu lainnya.
Fokusnya kepada proses realita. Model ini berorientasi pada prioritas terhadap
perbaikan kemampuan (abilitas) individu dalam berinteraksi dengan orang lain,
perbaikan proses-proses demokratis dan perbaikan masyarakat
Dalam model ini tercakup beberapa jenis strategi
pembelajaran, yaitu:
- Kerja kelompok; tujuannya adalah untuk mengembangkan keterampilan dalam bermasyarakat dengan cara mengembangkan hubungan interpersonal, dan keterampilan menemukan dalam bidang akademik.
- Pertemuan kelas; tujuannya untuk mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri maupun terhadap kelompok.
- Pemecahan masalah social atau inquiry social; bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah social dengan cara berpikir logis dan penemuan akademik.
- Model laboratorium; bertujuan untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam kelompok.
- Model pengajaran yurisprudensi; bertujuan untuk melatih kemampuan mengolah informasi dan memecahkan masalah social dengan cara berpikir yurisprudensi.
- Bermain peranan; bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa menemukan nilai-nilai social dan pribadi melalui situasi tiruan.
- Simulasi sosial; bertujuan untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan social serta menguji reaksi mereka.
b Model Proses Informasi
Model ini didasarkan pada belajar
kognitif, berorientasi pada kemampuan siswa dalam memproses informasi dan
sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut. Model ini berkenaan
dengan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir produktif, serta
berkenaan dengan kemampuan intelektual umu (general intellectual ability). Beberapa strategi pembelajaran dalam model proses
informasi, diantaranya:
- Mengajar induktif; bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan membentuk teori.
- Latihan inquiry; tujuannya pada prinsipnya sama dengan strategi mengajar induktif, perbedaannya terletak pada segi proses mencari dan menemukan informasi yang diperlukan.
- Inquiry keilmuan; bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dan diharapkan memperoleh pengalaman dalam bagian-bagian lainnya.
- Pembentukan konsep; bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif, mengembangkan konsep dan kemampuan analisis.
- Model pengembangan; bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan umum terutama berpikir logis, disamping untuk mengembangkan aspek sosial dan moral.
- Advanced organizer model; bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan (bodies of knowledge) secara bermakna.
c. Model Personal
Model pembelaaran ini berorientasi
pada individu dan pengembangan diri. Titik beratnya adalah pada pembentukan
pribadi individu yang tertuju pada kehidupan emosionalnya. Model ini diharapkan
dapat membantu individu untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan
lingkungannya, dan menjadikannya sebagai pribadi yang mampu membentuk
hubungan-hubungan dengan pribadi lain dalam konteks yang lebih luas serta mampu
memproses informasi secara efektif.
Model pembelajaran personal terdiri dari empat
strategi pembelajaran, yaitu:
- Pengajaran non direktif; bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi yaitu kesadaran diri (self awareness), pemahaman (understanding), otonomi, dan konsep diri (self concept).
- Latihan kesadaran; bertujuan untuk meningkatkan kemampuan self exploration dan self awareness. Titik beratnya pada perkembangan interpersonal.
- Sinektik; bertujuan untuk mengembangkan kreativitas pribadi dan pemecahan masalah secara kreatif.
- Sistem konseptual; bertujuan untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.
d. Model Modifikasi Tingkah Laku
Model pembelajaran ini bertitik
tolak dari teori belajar behavioristik. Model tersebut bermaksud mengembangkan
sistem-sistem yang efisien untuk mengurut tugas-tugas belajar dan membentuk
tingkah laku dengan cara memenipulasi penguatan (reinforcement). Para eksponen
teori reinforcement telah mengembangkan model-model dan operabt conditioning
sebagai mekanisme sentral. Para eksponen tersebut seringkali menunjuk kepada
teori modifikasi tingkah laku yang menitik beratkan pada perubahan tingkah laku
eksternal siswa sebagai visible behavior lebih dari tingkah laku yang
mendasarinya. Operant conditioning telah diterapkan daam bidang pendidikan dan
bidang-bidang lainnya, misalnya bidang kemiliteran, disampaikan dalam berbagai
model yang berbentuk media-oriented, seperti: pengajaran berprogram,
interactive teaching, dan micro teaching.
2.3 Pendekatan
Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum
berbasis kompetisi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu kurikulum yang
menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas
dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh
peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK
diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan pemahaman, kemampuan, nilai, sikap,
dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran,
ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
KBK
memfokuskan pada perolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik.
Oleh karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat
tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapainnya
dapat dinikmati dalam bentuk perilaku atau ketrampilan peserta didik sebagai
suatu kriteria keberhasilan. Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk
membentuk peserta didik menguasai sekurang-kurangnya tingkat kompetensi
minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Sesuai
dengan konsep belajar tuntas dan pengembangan bakat, setiap peserta didik harus
diberi kesempatan untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan kemampuan dan
kecepatan belajar masing-masing.
KBK
menurut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam
rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian konsep ini tentu
saja tidak dapat digunakan sebagai resep untuk memecahkan semua masalah
pendidikan, namun dapat memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap
perbaikan pendidikan.
Kurikulum adalah subsistem
dalam dunia pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari proses dinamika yang
terjadi dalam masyarakat. Sedangkan kompetensi adalah pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan
bertindak. Jadi kurikuum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang secara
dominan menekankan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam setiap mata
pelajaran pada setiap jenjang sekolah. Sebagai implikasinya
akan terjadi pergeseran dari dominasi penguasaan kongnitif menuju penguasaan
kompetensi tertentu.
Kompetensi
yang dituntut terbagi atas tiga jenis, yaitu:
- Kompetensi tamatan yaitu, kompetensi minimal yang harus dicapai oleh siswa setelah menamatkan sesuatu jenjang paendidikan tertentu.
- Kompetensi mata pelajaran, yaitu kompetensi minimal yang harus dicapai pada saat siswa menyelesaikan mata pelajaran tertentu.
- Kompetensi dasar, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai oleh siswa dalam setiap bahasan atau materi tertentu dalam satu bidang tertentu.
Kurikulum
berbasis kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki empat komponen
sebagai framework, yaitu:
- Kurikulum dan hasil belajar. Memuat perencanaan pembangunan kompetensi peserta didik yang perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai 18 tahun dan juga memuat hasil belajar, indikator, dan materi.
- Penilaian berbasis kelas. Memuat prinsip sasaran dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsistensebagai akuntabilitas public melalui identifikasi kompetensi dari indikator belajar yang telah dicapai, pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.
- Kegiatan belajar mengajar. Memuat gagasan pokok tentang pembelajaran dan pengajaran untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan serta gagasan pedagogis dan adragogis yang mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik.
- Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga pendidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar, pola ini dilengkapi dengan gagasan pembentukan kurrikulum (curriculum council), pengambangan perangkat kurikulum.
Landasan
pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Antara lain:
a. Filosofi
a. Filosofi
Landasan filosofis yang mendasari
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi adalah penerapan dari pandangan
konstruktivisme dalam pendidikan. Dalam pandangan ini lebih tercurah kepada
pemberdayaan potensi dan kemampuan anak. Sehingga siswa mendapat pembelajaran
dengan mengutamakan kualitas proses dan hasil dalam hal ketercapaian kompetensi
yang ingin diharapkan dalam pembelajaran.
b. Yuridis
Landasan
yuridis yang mendasari adanya penyempurnaan kurikulum antara lain:
- Perubahan pada UUD 1945 Pasal 31 tentang pendidikan. TAP MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 1999-2004: Bab IV bagian E, butir 3,mengenai pembaruan system pendidikan termasuk di dalam-nya pembaruan kurikulum.
- Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
- Undang-Undang No. 22 Tahun 1999: Bab IV Pasal 7 tentang Kewenangan Daerah.
- Peraturan
pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Daerah Propinsi
sebagai daerah otonom.
c. Sosiologis
Landasan
sosiologis yang mendasari pengembangan kurrikulum berbasis kompetensi, antara lain:
- Perkembangan kehidupan yang ditandai oleh beberapa ketimpangan dalam kehidupan, seperti moral, akhlak, jati diri bangsa, social, politik, serta ekonomi.
- Upaya peningkatan mutu pendidikan selama ini belum mencapai taraf yang memadai yang mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat pada umumnya.
d. Empiris
Landasan
empiris yang mendasari pengembangan kurikulum yang berbasis kompetensi ini
dapat dikemukakan sebagai berikut:
- Dalam kajian dokumen kurikulum di indonesia sejak kurikulum 1975, 1984, dan 1994 pada dasarnya ialah kurikulum berbasis materi, sehingga dalam pembelajarannya terasa terburu-buru dan menekankan pencapaian materi yang menjadi tuntutan kurikulum dan mengenyampingkan kebutuhan ketercapaian kompetensi yang seharusnya dicapai oleh siswa.
- Dari hasil kajian terhadap kajian literatur, kurikulum, buku panduan, dan buku-buku pelajaran dinegara-negara maju. Seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Singpura, perkembangan pendekatan kurikulum sejak akhir 1960-an sampai dengan tahun 1980-an telah menggunakan pendekatan berbasis kompetensi (competence based approach) dan pendekatan belajar tuntas (mastery learning approach).
2.4 Empat Pilar Pendidikan Indonesia
Upaya meningkatkan kualitas suatu
bangsa tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan.
Berangkat dari pemikiran itu UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan
sekarang dan masa depan yaitu: learning to know, learning to do, learning to
be, dan learning to live together.
- Learning to know : Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha untuk mencari agar mengetahui informasi yang dibutuhkan dan berguna bagi kehidupan. Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya Learning to How. Untuk mengimplementasikan “learning to know” (belajar untuk mengetahui), Guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.
- Learning to do : Pendidikan juga merupakan proses belajar untuk bisa melakukan sesuatu (learning to do). Proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan, serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seyogjanya memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar “Learning to do” (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terrealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan semata.
- Learning to be : Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilitator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan maksimal. Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama. Pilar ketiga yang dicanangkan Unesco adalah “learning to be” (belajar untuk menjadi seseorang).
- Learning to live together : Belajar memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. Terjadinya proses “learning to live together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama), pada pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama. Dengan kemampuan yang dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live together).
Dengan
mengaplikasikan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan yang berlangsung di
seluruh dunia termasuk Indonesia dapat menjadi lebih baik, namun yang menjadi
masalah adalah dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini masih minim
fasilitas, terlebih lagi di daerah-daerah terpencil, belum meratanya fasilitas
pendidikan, tentunya akan menjadi halangan bagi siswa untuk mengembangkan diri
mereka. Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada
peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap,
kepribadian dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang
demikian maka pada gilirannya akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat
yang bermartabat di mata masyarakat dunia.
2.5 Rambu-Rambu Kurikulum
Rambu-rambu penggunaan media pembelajaran yang harus dipahami,
sebagai seorang tenaga profesional, guru juga wajib dan harus mampu memahami
berbagai metode pembelajaran. Penguasaan metode pembelajaran yang baik mulai
dari keunggulan dan kelemahannya, juga dituntut untuk mampu melaksanakannya
secara baik. Kesalahan dalam pemilihan metode pembelajaran, merupakan awal
kegagalan guru dalam melaksanakan tugas pembelajarannya di kelas. Oleh karena
itu, guru dituntut memiliki keterampilan dalam mengimp rambu-rambu
penggunaan media pembelajaran yang harus dipahami, sebagai seorang tenaga
profesional, guru juga wajib dan harus mampu memahami berbagai metode
pembelajaran. Penguasaan metode pembelajaran yang baik mulai dari keunggulan
dan kelemahannya, juga dituntut untuk mampu melaksanakannya secara baik.
Kesalahan dalam pemilihan metode pembelajaran, merupakan awal kegagalan guru
dalam melaksanakan tugas pembelajarannya di kelas.
Dalam sejarah, media dan teknologi memiliki pengaruh
terhadap pendidikan. Contohnya, komputer dan internet telah mempengaruhi proses
pembelajaran sampai saat ini. Aturan-aturan dari pendidik dan pembelajar telah
berubah karena dipengaruhi media dan teknologi yang digunakan di dalam kelas. Perubahan
ini sangat esensial, karena sebagai penuntun dalam proses pembelajaran,
pendidik (guru) berhak menguji media dan teknologi dalam konteks belajar dan
itu berdampak pada hasil belajar siswa.
Learning Belajar adalah proses pengembangan
pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai
interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode
pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan
sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses
yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas
kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi
tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan
psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan
menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan
metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi,
demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan
belajar. Psychological
Perspective on Learning Bagaimana instruktur menampilkan peran dari media dan
teknologi di dalam kelas, ini tergantung akan seberapa jauh mereka memahami
akan bagaimana masyarakat telah belajar mengunakannya.
UndangUndang Republik Indonesia nomor
20
Tahun
2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan
menengah dengan mengacu kepada Standar Isi dan Standar
Kompetensi
Lulusan serta berpedoman pada
panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Ramburambu
ini dimaksudkan
sebagai acuan bagi sekolah menengah kejuruan untuk menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Ø
Landasan
Rambu-Rambu Kurikulum
- Undang Undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan Nasional:Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 32 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 37 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 38 ayat (1) dan (2).
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan: Pasal 1 ayat (5), (13), (14), dan (15); Pasal 5 ayat (1) dan (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), dan (8); Pasal 8 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), dan (4); pasal 14 ayat (1), (2), dan (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Pasal 17 ayat (1) dan (2); Pasal 18 ayat (1), (2), dan (3), dan Pasal 20.
- Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
- Permendiknas No 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).
- Permendiknas No 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar Isi SKL pada satuan pendidikan dasar dan menengah.
Ø Tujuan Rambu-rambu Penyusunan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan ramburambu penyusunan
KTSP ini
adalah sebagai acuan bagi satuan pendidikan SMK/MAK dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendekatan
pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan,
dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
a. Macam-macam Pendekatan Pembelajaran
a. Macam-macam Pendekatan Pembelajaran
- Pendekatan Individual
- Pendekatan Kelompok
- Pendekatan Klasikal
- Pendekatan Bervariasi
- Pendekatan Edukatif
- Pendekatan Keagamaan dan Kebermaknaan
b.
Model Pembelajaran berdasarkan Teori-teori Belajar
- Model Interaksi Sosial
- Model Proses Informasi
- Model Personal
- Model Modifikasi Tingkah Laku
c. Empat Pilar Pendidikan Indonesia
- Learning to know
- Learning to do
- Learning to be
- Learning to live together
d.
Tujuan Rambu-rambu Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan ramburambu penyusunan
KTSP ini
adalah sebagai acuan bagi satuan pendidikan SMK/MAK dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
3.2 Saran
Saran bagi pembaca agar lebih memahami bagaimana
pendeketan dan model-model pendekatan dalam belajar mengajar, memahami 4 pilar
pendidikan, memahami rambu-rambu kurikulum dengan baik, sehingga mampu menjadi
calon pendidik yang mampu mencerdaskan siswa/siswinya.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati & Mudjiono.2009. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
http://umat10slamet.blogspot.com/2011/11/pendekatan-pengembangan-kurikulum.html
Di
akses pada tnggl 27 maret 2013 pukul 16.46 wib
http://rahayukusumapratiwi.blogspot.com/2012/11/makalah-aliran-pendidikan.html
Di akses pada
tanggal 27 maret 2013 pukul 17.02 wib
http://serbasejarah.blogspot.com/2012/01/pilar-pendidikan-indonesia.html
Di akses pada
tanggal 27 maret 2013 pukul 17.05 wib
http://catarts.wordpress.com/2012/04/15/pendekatan-dalam-belajar-mengajar/
Di akses pada
tanggal 27 maret 2013 pukul 16.56 wib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar